Selasa, 10 September 2013

Antara Jihad & Syahid

suara keramaian malam 17 agustus sudah terdengar di lingkup perumahan kami,
antara datang dan tidak, akhirnya kuputuskan datang juga,
mungkin dengan bertemu dan bersosialisasi dengan tetangga akan mengurangi rasa sakit yg sedari sore mendadak datang mendera...
sakit yang rasanya seperti mau haid...
bersama suami yg malam itu menjadi pengisi acara tausyah, kami hadir di acara yang sudah dimulai selepas isya itu...
beberapa tetangga yang melihatku seperti dapat diduga bertanya, "kapan lairan bu?"
aku yang sudah berkeringat dingin karena menahan sakit seperti yang sudah sudah menjawab, "wah, wallahu a'lam, ini sudah lewat 10 hari dr hpl..."
"sudah terasa sakit gitu?"
"iya...ini sedang terasa sakit, sakitnya sudah sering, 5 menit sekali gitu, sudah dr td sore, makin lama makin sakit..."
"wah, harus banyak makan itu, kemungkinan sebentar lagi lairan, ayo bu, makan yg banyak,biar pas mengejan nanti ada tenaga..." kata ibu RT yg notabene jg ikhwah, langsung menyodorkan minum, dan sepiring makanan.
ibu ibu yang lain juga heboh, memberikan banyak nasihat dan petuah, "tenang saja bu, semua wanita mengalaminya...", "teorinya sudah tahu kan bu?", "semoga lancar n dimudahkan ya bu...", "rencana ke rumah sakit pake apa bu?itu tetangga banyak yg punya mobil, matur aja...", "setelah ini langsung ke rumah sakit saja bu...", "mau lairan dimana bu?yg nemenin ada?", "semangat ya, ini jihad pertamamu sebagai wanita..." kata seorang ikhwah kepadaku...
begitu banyak komentar dan perhatian, aku jadi terharu, tidak salah keputusanku datang ke majelis ini, walau dengan menahan sakit...
selepas acara selesai, ibu ibu yang baik hati ini menyempatkan diri berkata padaku,"bu, langsung ke rumah sakit aja habis ini yaa...", "bu, kabari aja kalau butuh mobil...", "bu, kabar kabari kalau sudah lairan ya..."
sementara di rumah, aku dan suami masih berdebat mengenai kapan kami akan ke rumah sakit. hasil jejak pendapat dengan ibuku via telepon, aku disarankan ke rumah sakit kalau memang sudah tidak bisa menahan sakitnya saja. suamiku juga ragu, apakah aku benar benar mengalami kontraksi yang sesungguhnya atau hanya kontraksi palsu...
yaa, aku tidak heran kalau suami ragu, selama ini memang aku suka bercanda, "aduh...sepertinya ini saatnya..." karena sudah terlampau jauh dr hpl, perkataan seperti itu selalu kulontarkan untuk menenangkan diri sendiri.
sementara waktu terus berlalu, saat itu pukul 22.00 malam, dan belum diputuskan kendaraan apa yg mau dipakai, mau naik motor atau mobil...
akhirnya pada pukul 22.30 diputuskan berangkat dengan naik taksi menuju rs roemani...
pukul 23.00 malam, akhirnya kami sampai di rs roemani, disana ternyata sudah ada kakak pertamaku datang untuk menemani...ia menanyakan keadaanku, bagaimana rasa sakitnya...
menuju igd, dilakukan pemeriksaan, ternyata bukaan 2...
karena masih lama, aku dan kakakku memutuskan untuk jalan jalan dulu, siapa tau bisa mempercepat pembukaan...namun demikian, seorang perawat menegur kami,karena sdh malam, sebaiknya istirahat saja, biar saatnya melahirkan nanti, aku punya banyak tenaga...
berlalulah kami ke ruang pra persalinan...
dan ternyata, pada saat inilah masa masa jihad itu dimulai...
semakin larut, semakin terasa sakit pula kontraksi ini...
duhai, ternyata seperti ini rasa sakit orang melahirkan, memang tidak bisa diungkapkan dengan kata kata
ya pokoknya sakit, terutama di bagian pinggang bawah, rasanya seperti sendi sendi mau lepas semua...
kontraksi hilang dan muncul bergantian, saat sakit, aku bisa meremas tangan suami dan kakakku sejadi jadinya, bahkan menggigit gigit tanganku sendiri...
tapi saat sakitnya hilang, tanpa sadar aku tertidur karena saking lelahnya...
oh...ternyata begini rasanya, pantas ada yg tidak tahan, lantas meminta operasi caesar saja...
rasa sakitnya seperti orang hendak dicabut nyawanya, ketika bidan memvonis "ini baru bukaan 3 mau ke 4"
subhanallah...rasa rasanya sudah lama aku menahan sakit, saat itu sudah pukul 03.00 pagi, dan rasa rasanya seperti sakaratul maut saking sakitnya..."tapi ini sepertinya cepet, kalau kontraksinya sdh makin sakit, biasanya cepet..."lanjut sang bidan. aku hanya meringis menahan sakit...
"sabar, tik, sabar..."kata kakakku menenangkan,"sebentar lagi....., aku saja dulu bisa, kamu juga pasti bisa..."
aku hanya menangis sambil terus menyebut nama Allah, meminta maaf pada suami, karena sakit yang terus menjadi jadi...
"berjuang ya sayang, ingat kata kata abi, kalau hidup,maka ini adalah jihad, kalau pada akhirnya meninggal,insyaAllah syahid..." ujar suamiku
pukul 05.00 pagi, akhirnya aku mengalami pecah ketuban spontan...
bidan segera membawaku ke ruang persalinan, tapi sayangnya,kakak dan suamiku tidak boleh masuk...
jadilah aku merengek kesakitan ditemani besi tepi kasur untuk melampiaskan rasa sakit...
oh, jadi begini ya kalau di rumah sakit, aku merasa seperti "dicuekin"
mau jejeritan sekenceng apa juga,perawat n bidan tetep sibuk dengan urusan persiapan kelahiran,
akhirnya, aku ikut ikutan cuek menjerit sekencang-kencangnya, padahal ibu ibu di kasur sebelah teriak juga, tapi ndak sebegitunya kayak aku...
ibu di kasur sebelah merupakan kelahiran anak ketiga, lebih cepat datangnya ke rs dr aku, tapi masuk ke ruang persalinan lebih lama dr aku...
setelah menunggu sambil berteriak teriak, akhirnya sang dokter tiba jua...
bertanya ini itu dengan perawat n bidan sejenak, kemudian langsung memberi aba aba padaku,
"bu, pegang kakinya dengan tangan kanan,
bu, bukan begitu caranya mengejan...mata terbuka, menunduk," tegas sang dokter
"bu, mengejan, bukan menangis, ini sudah kelihatan kepalanya, ayo usaha lagi" tegas sang dokter
"ibu yg manut kalau dikasih aba aba, kasihan ini anaknya..."kata sang dokter lagi
"kalau capek, ambil napas panjang, trus langsung mengejan lagi, kasihan kalau anaknya kejepit"kata sang dokter lagi
oh, benar kata teman teman seperjuangan mengenai dokter ini, aku sdh membuktikannya,
sangat tegas, kalau ndak mau dibilang galak...
tapi alhamdulillah, dengan mengikuti instruksi beliau, 18 agustus 2013 pada pukul 05.45 pagi, lahir sudah putra pertama kami, Teungku Umar Khalid, yang dulu cuma bisa menendang nendang dalam perut, berputar putar dalam perut, sekarang ia menangis dan menjejak jejakkan kaki kecilnya menyambut dunia...
alhamdulillah, jihad pertama sebagai seorang wanita terlampaui sudah, masih diberi kesempatan hidup, untuk selanjutnya melanjutkan amanah lain dari Allah...merawat n mendidik Teungku Umar Khalid...
semoga menjadi hafizul Quran n imam masjidil haram ya nak... :)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar